Sunday, October 23, 2011

contoh laporan studi kasus

sementara q nyantumin bab 1 dulu
semoga ini bermanfaat dan bisa membantu yang sedang membutuhkan



BAB I
PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi

Setiap siswa sebenarnya mempunyai masalah dan sangat variatif. Permasalahan yang dihadapi siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi siswa, maka praktikan – pihak yang berkompeten – perlu memberikan bantuan. Apabila siswa tidak dibantu, siswa akan semakin mendapatkan permasalahan yang cukup berat untuk dipecahkan. Disini praktikan senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara mendalam.



Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study). Karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi siswa dan semakin majunya pengembangan teknik-teknik yang digunakan dalam tahapan studi kasus, maka praktikan menggunakan metode seperti teknik pengumpulan data, analisis, sintesis, diagnosis, prognosis, dan treatment.

Pengertian Study Kasus

Studi kasus akan mempermudah praktikan sekolah untuk membantu memahami kondisi siswa seobyektif mungkin dan sangat mendalam. Membedah permasalahan dan hambatan yang dialami siswa sampai ke akar permasalahan, dan akhirnya praktikan dapat menentukan skala prioritas penanganan dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.
Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan 2 (dua) pengertian tentang Studi kasus (Case Study) pertama Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Kedua studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang . serta menolongnya dalam usaha penyesuaian diri (adjustment) (Kartini dan Gulo, 2000).
Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Konseling, yaitu ;
Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985).
Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).
Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).
Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan pengambilan data yang berhubungan dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.
Jadi berdasarkan pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada praktikan sebagai orang yang mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh praktikan kemudian dinventaris dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk dikaji kembali apa saja masalah dan hambatan yang ada pada individu siswa.

Tujuan Studi Kasus / Bimbingan Konseling

Bimbingan konseling bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin. Pengembangan potensi meliputi tiga tahapan, yaitu pemahaman dan kesadaran (awareness), sikap dan penerimaan ( accommodation ), dan keterampilan atau tindakan (action ) melaksanakan tugas – tugas perkembangan.
Tujuan penelitian studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat, serta karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu, yang kemudian dari sifat-sifat khas ini akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum ( Nazir, 1988 ).
Studi Kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang mendalam, praktikan dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut.
Studi kasus memiliki keunggulan seperti yang dikemukakan oleh Ainin (2007), yaitu :
a. Kajian dilakukan secara mendalam dan utuh dalam totalitas lingkungan yang diteliti, sehingga informasi yang dihasilkan lebih komprehensif dan tuntas
b. Hasil penelitian studi kasus memberikan hipotesis untuk penelitian lanjutan
c. Kajian yang intensif ini memungkinkan ditemukan suatu hubungan-hubungan yang tidak terduga sebelumnya, dan kebenaran informasi dapat ditransfer ke subjek lain yang memiliki karakteristik yang sama.

Mengacu pada pembahasan diatas maka tujuan dari bimbingan dan konseling di sekolah adalah agar peserta didik dapat:
1. Mengembangkan seluruh potensinya seoptimal mungkin
2. Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri
3. Mengataasi kesulitan dalam memahami lingkungannya, yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga, pekerjaan, social-ekonomi dan kebudayaan
4. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalahnya
5. Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat dan bakatnya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan
6. Memperoleh bantuan secara tepat dari pihak-pihak di luar sekolah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan di sekolah tersebut

Sasaran Studi kasus

Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Studi kasus dapat memberikan nilai tambah bagi guru dalam menyelesaikan persoalan individu maupun social siswa. Yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang memiliki suatu problem (problem case), baik dalam bidang akademis maupun social lingkungannya. Jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

B. Konfidensialitas

Salah satu asas bimbingan dan konseling adalah asas kerahasiaan. Junaidi (2009) menjelaskan pengertian asas kerahasiaan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang konseling yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar terjamin.
Terdapat dua data yang dapat dikumpulkan dalam kegiatan studi kasus ini, yaitu data umum dan data khusus. Data khusus merupakan data yang bersifat pribadi dari klien, data khusus ini dijamin kerahasiaannya serta tidak digunakan oleh pihak lain tanpa seizin klien yang bersangkutan, kecuali untuk kepentingan siswa. Hal ini sesuai dengan kode etik praktikan serta sesuai dengan prinsip bimbingan dan konseling.
Data yang diperoleh sifatnya sangat rahasia dan diisi degan sejujurnya oleh klien, maka sesuai dengan kode etik praktikan di sekolah, nama dan identitas yang berkaitan dengan diri klien dibuat fiktif, hal ini bertujuan untuk mengantisipasi jika di kemudian hari ada yang membaca dan mencoba mengetahui data ini, sehingga dapat menjaga perasaan klien agar tidak malu atau merasa rendah diri jika kerahasiaanya diketahui oleh orang lain yang tidak berkepentingan.

Menurut Munandir (1991) kode etik jabatan konselor terdapat dalam kode etik no 1 dan 4 bab penyimpangan penggunaan informasi. Kode etik 1.1 tersebut berbunyi:
Catatan-catatan tentang diri klien, yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat menturat, perekam, dan data-data lainnya, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan riset atau pendidikan calon konselor, asalkan identitas siswa dirahasiakan.

Pernyataan tersebut diperkuat lagi pada butir 1.2 yang berbunyi :
Penyampaian informasi mengenai klien kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain hanya boleh dilakukan seizin klien. Penggunaan informasi tentang diri klien yang sama atau yang lain dapat dibenarkan asalkan untuk kepentingan klien dan tidak merugikan klien. Kewajiban konselor untuk memegang rahasia klien tetap berlaku meskipun konselor tidak lagi menangani klien atau tidak lagi berdinas sebagai konselor.

Untuk menjaga privasi klien, maka ada beberapa identitas yang disamarkan, karena bukan tidak mungkin laporan studi kasus ini dibaca oleh orang yang tidak berwenang menggunakannya. Selain itu, agar diri klien merasa nyaman dan tidak merasa malu atau dirugikan karena rahasianya diketahui oleh orang lain yang tidak berkepentingan.


A.    Identifikasi Kasus
1.      Proses Menemukan Kasus
Proses menemukan kasus oleh praktikan ini dimulai dengan observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran di kelas. Praktikan menjumpai siswa memiliki nilai yang kurang dibandingkan teman-teman sekelasnya. Siswa juga bercerita tentang ketidak minatannya dengan pelajaran Ekonomi. Ketika itu siswa baru bercerita singkat tentang masalahnya. Selanjutnya, praktikan melanjutkan dengan kegiatan observasi untuk mengamati perilaku tampak (observable behavior) baik di kelas maupun di luar kelas, misalkan saat istirahat di luar kelas, saat olahraga di lapangan, atau saat bertemu di jalan.
Dari hasil observasi dan informasi dari siswa sendiri tentang masalahnya, praktikan memutuskan untuk mengangkat gejala yang ditemukan sebagai studi kasus. Setelah dilakukan pengamatan selama 5 hari dan dari informasi hasil wawancara dengan siswa, ditemukan gejala masalah yang dihadapi siswa. Selanjutnya, praktikan menelusuri masalah lebih jauh dengan beberapa teknik pengumpulan data lainnya untuk mempertegas dan memperjelas gejala yang dialami siswa tersebut.
2.      Identitas Siswa
a.       Data Pribadi Siswa
b.      Keadaan Jasmani
c.       Keadaan Kesehatan
d.      Riwayat Pendidikan
e.       Data keluarga
3.      Gambaran tentang diri siswa
a.       Penampilan Fisik
                        Secara fisik siswa memiliki tubuh yang ramping, tinggi, dan berkulit putih. Siswa dalam kesehariannya mengenakan seragam dengan rapi dan sopan. Dari penampilan fisik, siswa tidak menampakkan gejala bermasalah.
b.      Penampilan Psikis
            Siswa selalu terlihat tersenyum ceria, terlebih ketika siswa bersama teman-temannya. Apabila disapa atau diajak bicara siswa cenderung mudah tanggap dan sopan, walaupun sedikit “girlish”. Ketika bicara dengan orang lain, siswa terlihat tidak memiliki masalah dalam dirinya. Siswa bicara seperti tanpa beban, selalu menatap ke lawan bicara dan sering terjadi kontak mata. Sekilas bisa dikatakan bahwa siswa memiliki banyak teman dan mudah bersosialisasi.

2 comments:

  1. Okwe, thanks sob..meski cuma sebagian .. bagi kami ini seluruh.. wkwkwkw..

    ReplyDelete
  2. semoga bermanfaat..
    memang ga seluruhnya saya posting

    ReplyDelete